Kamis, 05 Januari 2012

Karena Politik, Kakek Minta Dipanggil Kakak

Ketua DPRD Sulsel, Moh Roem mengaku lebih senang jika disapa dengan sebutan "Kak Roem". Katanya sebutan kakak akan lebih mengakrabkan komunikasi layaknya seorang kakak dengan adiknya.
Walau usianya telah menginjak kepala lima, dan sebenarnya lebih pantas untuk disapa "Kek Roem", namun politisi kawakan Golkar Sulsel ini mengaku lebih nyaman jika dipanggil kakak meski oleh kalangan mahasiswa semester awal atau oleh anak baru gede (ABG) sekalipun.
Sebagai seorang yng pernah menjabat sebagai Bupati Sinjai 10 tahun lamanya, anggota DPR RI dua tahunan, dan dua periode di DPRD Sulsel Roem bukan tipikal pejabat yang terikat dengan status sosial apalagi menjaga wibawa.
Ia bahkan tidak segan-segan duduk melantai atau makan nasi bungkus bersama wartawan yang posko di kantornya.
Tagline Roem, "Kak Roem" pun menjadi senjata ampuh untuk sosialisasi dirinya di suksesi pemilihan gubernur Sulsel 2013 nanti.
Tambahan tiga kata Santun, Sederhana, dan Berpengalaman, semakin mencerminkan kekuatan karakternya dalam setiap baliho yang ia pasang.
Alhasil, hanya butuh beberapa pekan saja tagline "Kak Roem" dengan sangat cepat menjadi familiar di telinga publik menjelang Pemilihan Gubernur Sulsel 2013 nanti.
Tahukah Anda, sebutan Kak Roem populer di injury time di gelanggang pilgub, sebenarnya telah ada sejak jauh-jauh hari sebelum Roem berkecimpung di dunia politik praktis.
"Saya mulai dipanggil Kak Roem waktu masih jadi Dosen di Unhas (Universitas Hasanuddin), hampir semua dosen, Guru Besar, kecuali Prof Amiruddin (Rektor Unhas waktu itu) yang tidak panggil Kak Roem, apalagi mahasiswa," kata Roem.
Atas dasar itu, Roem pun ingin mempopulerkan kembali ketenaran namanya. Baginya, menjaga wibawa sebagai seorang pejabat itu penting tapi tidak harus dengan membatasi pergaulan dengan hanya kalangan tertentu dan mengacuhkan kalangan yang secara status sosiak ada di bawahnya.
Wibawa seorang pejabat harus dijaga melalui tutur kata, perbuatan, dan komitmen untuk mengabdikan diri sebaik-baiknya kepada masyarakat menurutnya jauh lebih utama.
Ia pun semakin yakin dengan sebutan "Kak Roem" tepat untuk dipopulerkan kembali setelah ia terpilih sebagai Ketua Harian Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Selatan.
Dalam gerakan pramuka anak-anak usia Siaga (SD), penggalang (SMP), Penegak (SMA, sampai Pandega (Perguruan Tinggi) hanya mengenal panggilan Kakak untuk orang yang lebih tua dalam usia.
Menurutnya, Pramuka tidak mengenal Bapak, Puang, Karaeng atau sebutan lainnya, hanya Kak.
"Apalagi saya kan sekarang di Pramuka, jadi biar anak SD juga panggil saya Kak. Makanya panggil saja saya Kak Roem supaya lebih akrab ngobrolnya," Kata Roem saat ditemui Tribun di Kantor DPRD Sulsel, bebebrapa waktu lalu.
Baliho dan spanduk Kak Roem saat ini telah tersebar hampir diseluruh kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Di Makassar, sebagai Ibu Kota Sulsel, baliho Roem akan sangat dengan mudah ditemui. (*)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.