PEMILIHAN kepala daerah di Sulsel dalam kurun 2012-2014 nanti mulai memancarkan pesonanya. Hingar-bingarnya pun kian menyedot perhatian publik.
Persaingan antarkandidat mulai tak terelakkan. Jalan protokol hingga gang sempit ke perkampungan tak ubahnya medan perang terbuka pertama bagi kandidat menggaet simpati massa.
Daya pikat pilkada tak hanya hanya memunculkan figur-figur baru, bahkan sejumlah pemain lama pun masih penasaran untuk menjajalnya kembali.
Kegagalan di pilkada sebelumnya tak lantas membuat mereka patah semangat. Bukankah kegalan adalah kesuksesan yang tertunda, demikian dalih mereka.
Maka tidak perlu heran jika hampir di setiap pilkada di Sulsel nanti akan dihiasi sejumlah wajah yang tak asing lagi. Kehadiran pemain lama tidak menutup peluang para pemain baru yang “masih hijau” di kancah pilkada.
Namun setidaknya, dengan pengalaman pahit pernah kalah di pilkada sebelumnya, akan membuat pergerakan sebagian pemain lama jadi lebih terarah karena telah menguasai kondisi medan lebih dulu.
Baik pemain lama maupun pendatang baru sama-sama memiliki peluang untuk menang dan kalah. Tergantung kelihaian merayu dan mengumbar janji disamping kekuatan mengorganisir tim dan finansialnya.
Fenomena keikutsertaan mantan kontestan pilkada lalu pada pilkada nanti dianggap wajar oleh Dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Muchlis Madani.
Apalagi undang-undang di Indonesia tidak memberikan batasan maksimal berapa kali seseorang dapat menjadi kontestan dalam pesta demokrasi sehingga memungkinkan seseorang berkali-kali mencalonkan diri sampai ia kapok dengan sendirinya.
“Selama kandidat itu belum kapok dipecundangi di pilkada, boleh saja dia mendaftar sampai berkali-kali. Apalagi secara normatif tidak batasan berapa kali seseorang mencalonkan. Sampai dia sadar sendiri,” katanya.
Menurutnya, prestise sosial dan kekuasaan di daerah masih menjadi motivasi utama sampai kapanpun akan terus memikat. Meskipun pada kenyataannya akan dibalut dengan berbagai program pro kerakyatan.
Dimulai dari Pilkada Takalar yang akan akan jadi permulaan di 12 Juli2012 nanti. Pemain lama seperti Burhanuddin Baharuddin (Golkar) danSyamsari Kitta (PKS) masih “bernafsu” untuk meraih tahta tertinggi di daerah ini.
Bedanya, jika pada di pilkada 2007 lalu keduanya melaju sebagai
pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati dan finish di posisi runner up, maka kali ini keduanya memutuskan bercerai dan menapaki jalannya masing-masing sebagai calon bupati.
Di Pilkada Bone dan Palopo yang rencana pelaksanaannya bersamaan dengan Pilkada Gubernur Sulsel di pekan ketiga Januari 2013 apa pun masih menyertakan wajah lama.
Sebut saja Andi Fahsar Padjalangi dan Andi Mangunsidi Massarapi di Pilkada Bone dan HM Judas Amir di Pilkada Palopo.
Fahsar dan Mangunsidi nampaknya belum puas dengan kekalahan yangmereka derita di pilkada Bone lalu saat mencalonkan diri sebagai calon bupati.
Dari 13 hajatan pilkada yang akan digelar dalam 2012-2014 di Sulsel, enam diantaranya tidak akan diikuti bupati incumbent seperti di Takalar, Bone, Sinjai, Palopo, Enrekang, Parepare.
Sedangkan sisanya yakni pilkada di Sidrap, Wajo, Luwu, Pinrang, Bantaeng, serta Pilkada Sulsel masih akan melibatkan bupati berkuasa. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.